BeritaDaerah

Kurangnya Dukungan Pemda, Seorang Seniman Maluku Banting Setir

URUSDO.COM, MALUKU – Seni merupakan ekspresi perasaan manusia yang di wujudkan melalui karya yang bersifat estetis dan bermakna. 

Karya-karya tersebut biasa di pamerkan oleh para seniman dengan tujuan menyampaikan pesan atau bentuk ekspresi mereka terhadap sesuatu, banyak pelaku seniman yang mempopulerkan karya-karya mereka lewat berbagai macam media, salah satunya adalah media sosial. 

Seiring berjalannya waktu, media sosial dan teknologi terus berkembang khususnya dalam mempopulerkan karya seni, salah satu bentuk perkembangan teknologi dan media sosial tersebut adalah NFT (Non-Fungible Token). 

Secara sederhana, NFT merupakan sertifikat kepemilikan daring yang bisa diperjual belikan, berbasiskan unit data yang disimpan pada buku besar digital (ledger) yang tergolong ke dalam teknologi blockchain. Teknologi blockchain yang mendasari NFT membuatnya memiliki kemampuan untuk mengesahkan aset digital menjadi kode unik yang tidak dapat digandakan atau duplikasi, sehingga menjaga hak kepemilikan menjadi tetap aman. 

Seniman bisa mengunggah karya seni mereka secara daring dan membuat NFTnya di situs-situs penjualan atau marketplace seperti contohnya OpenSea dan Binance. Setelah menjual hasil karyanya sebagai NFT, seniman masih bisa mengklaim hasil karyanya sebagai hak cipta serta dapat menjual karyanya sebagai bagian dari royalti. 

Perkembangan teknologi ini di sambut baik dan serius oleh pemerintah jawa barat dalam hal memfasilitasi serta mendukung para pelaku ekonomi kreatif untuk menjual karya nya. Ridwan kamil atau yang akrab di sapa Kang Emil selaku Gubernur Jawa Barat langsung turun ke jalan untuk memberi pemahaman tentang peluang di NFT kepada seniman jalanan. 

Baca Juga Berita Blockchain di Indonesia

Sayangnya tidak semua Seniman dan Pelaku Ekonomi Kreatif mendapat dukungan dari pemerintah daerahnya. Muhammad Fahd atau yang akrab di sapa Atyho Seniman asal maluku ini kecewa karena pernah “di remehkan” oleh pemerintah daerah nya. 

Atyho memenangkan banyak penghargaan di beberapa kota dengan membawa nama baik daerahnya  namum tidak selalu mendapatkan perhatian dan pujian dari pemerintah daerahnya. 

“Waktu itu saya pernah di undang ke swiss untuk mengisi pameran seni disana, saat itu ekonomi saya terbilang susah. Saya mencoba minta bantuan dana dari pemerintah daerah untuk membantu proses keberangkatan saya,yang bikin kecewa adalah proses pencairannya sangat lama, susah dan sekalinya cair hanya kurang lebih 2 jutaan” ujar Atyho

Baca Juga Berita Maluku Hari Ini

“Sekarang coba bayangkan apakah2 juta itu cukup untuk proses keberangkatan ke swiss? Padahal yang saya lakukan ini juga untuk mengharumkan nama baik bangsa  di mata dunia khususnya provinsi maluku” ujar Atyho. 

Menurutnya pemerintah provinsi maluku mampu melihat peluang karya digital agar dapat membantu para seniman dalam mempopulerkan karya-karya mereka. 

“Saya berharap pemerintah provinsi maluku bisa lebih berkaca terhadap Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menghargai seniman di derahnya,” imbuhnya.

Setelah kecewa dengan sikap pemerintah daerahnya yang terkesan tutup mata, Atyho “banting stir” dari seniman tradisional ke seniman digital dan menjual karya-karya NFT nya melalui marketplace opensea yang menurutnya lebih mandiri tanpa harus berharap lagi dengan pemerintah daerahnya. 

Saat ini, Atyho seniman maluku aktif mensosialisasikan NFT ke komunitas seniman diberbagai daerah di wilayah maluku.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker