BeritaDaerah

Dugaan Korupsi, Kontraktor PT. Bias Sinar Abadi Harus Ditangkap

URUSDO.COM, AMBON – Direktur Utama MCW Wilayah Maluku, S. Hamid Fakaubun SH, MH, mengatakan, tujuan harus ditangkapnya kontraktor itu agar yang bersangkutan tidak melarikan diri, tidak menghilangkan barang bukti, dan tidak mengulangi perbuatan yang sama. Hal ini mengingat anggaran proyek telah dibayarkan 100 persen, sementara pekerjaan fisik proyek di lapangan masih terbengkalai.

“Demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan serta demi kelancaran proses penyelidikan kedepannya, maka kami mendesak Kejati Maluku dapat segera menangkap kontraktor ini,” desak Hamid, kepada koran ini di Ambon, Kamis, 20 Januari 2022.

Dugaan korupsi pada proyek jalan dari Desa Rambatu menuju Negeri Manusa, Kecamatan Inamosal, Kabupaten Seran Bagian Barat (SBB) mulai memantik perhatian para pegiat anti korupsi di Maluku.

Salah satunya, datang dari Mollucas Corruption Watch (MCW). Lembaga mitra Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di daerah ini, mendesak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku segera menangkap kontraktor dari PT. Bias Sinar Abadi, yang mengerjakan proyek pembangunan yang dialokasikan dalam APBD tahun anggaran 2018 senilai Rp31 miliar.

Dikatakan Hamid, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari situs resmi PT Bias Sinar Abadi, tercatat bahwa perusahaan tersebut beralamat di Jl. M.H. Thamrin No.10D, RT.2/RW.1, Kb. Sirih, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Baca Juga Berita Maluku Terkini

Dari informasi yang diperolehnya itu, Hamid meminta kepada Kejati Maluku agar dapat bergerak cepat menuju ke alamat perusahaan tersebut, untuk menyita segala dokumen terkait proyek jalan yang direncanakan akan menghubungkan Negeri Rambatu dan Negeri Manusa sepanjang 24 km itu.

“Seperti yang saya sampaikan tadi bahwa untuk mencegah agar semua barang bukti tidak dihilangkan oleh pihak perusahaan selaku pelaksana proyek, kiranya Kejati Maluku dapat bergerak cepat melakukan penggeledahan dan menyita semua dokumen terkait,” tandasnya.

Dia juga berharap agar Kejati Maluku dapat segera merampungkan seluruh rangkaian proses penyelidikannya, kemudian meningkatkan kasusnya ke tahap penyidikan, sekaligus menetapkan pihak-pihak yang patut diduga bertanggungjawab, sebagai tersangka.

“Siapapun yang patut diduga terlibat membantu memperkaya orang lain atau diri sendiri, harus ditetapkan sebagai tersangka. Saya harap Kejati tidak tebang pilih dalam penegakkan hukum kasus ini. Kami akan kawal terus proses penyelidikan kasus ini,” harapnya.

Sementara itu, Asisten Intelijen (Asintel) Kejati Maluku, Muji Martopo, yang dikonfirmasi koran ini via selulernya, mengaku bahwa nama Direktur PT. Bias Sinar Abadi selaku kontraktor pelaksana proyek, telah masuk dalam daftar panggilan penyelidik untuk diperiksa.

“Sudah kita agendakan dan dalam waktu dekat akan di panggil untuk dimintai keterangan,” akuinya.

Menurut Muji, pemeriksaan terhadap kontraktor selaku penanggungjawab pekerjakan proyek di lapangan, bukan pertama kali dilakukan. Sebelumnya perwakilan kontraktor di Kabupaten SBB sudah dimintai keterangannya saat tim melakukan On The Spot di Kecamatan Inamosol beberapa waktu lalu.

“Yang pasti kita panggil lagi, tapi perwakilannya yang di SBB sudah dimintai keterangan,” tandasnya.

Informasi sumber media ini men­­yebutkan, mulus­nya pencairan 100 persen anggaran pembangunan jalan yang dikerjakan PT Bias Sinar Abadi se­panjang 24 KM itu, karena melibatkan ban­yak pihak.

Dimana, PT. Bias Sinar Abadi beserta anak perusahaannya diduga telah memberikan komisi sebagai dana ‘pelicin’ kepada berbagai pihak.

Sebelumnya, seorang warga meminta kepada pihak Kejati Maluku yang saat ini sedang menyelidiki kasus tersebut, agar memeriksa pihak-pihak yang diduga kuat menerima ‘pelicin’ dari PT Bias Sinar Abadi.

“Jika Kejati tidak maksimal dalam penyidikan kasus ini, maka pihaknya mengancam akan bersama warga melaporkan kasus tersebut ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI di Jakarta,” ancamnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker