BeritaDaerah

Terkait Kasus Seorang Oknum Perwira Kompol Latarissa, Kapolda Maluku Dituntut Selesaikan Kasusnya

URUSDO.COM, AMBON – Terkait dengan tindakan yang sudah dilakukan seorang perwira Polisi terhadap rakyat jelata yang mencari hidup di pasar Mardika menurut Siamiloy seorang yang punya jabatan janganlah berbuat tindakan yang sewenang-wenang terhadap rakyat kecil.

, “Jangan karena punya jabatan lalu istilahnya sewenang-wenang, mestinya hal itu tidak boleh terjadi, ” Urainya.

Mestinya polisi itu kapan dan dimana harus mendahulukan pendekatan secara manusiawi, bukan mendahulukan kekuasaan.

Kapolda Maluku diminta tegas dalam menegakan aturan pada kasus pengrusakan bangunan lapak Cakar bongkar yang dilakukan oleh oknum Perwira Polda Maluku, Kompol Cam Latarissa pada 27 Januari 2021.

Demikian penjelasan Drs. Herman Siamiloy tokoh pemerhati masalah sosial dan kemanusiaan, Pendidikan serta hukum kepada wartawan via Telpon, Sabtu (26/2/2022).

Menurutnya, kalau Kapolda tidak serius menanggapi persoalan yang terjadi, dengan adanya lambatnya penanganan kasus ini maka harus segera melaporkan ke Kapolri.

“Ini ada sesuatu yang tidak beres di lapangan, jangan menutupi kejahatan yang dilakukan oleh bawahannya, ” Ujar Siamiloy.

Baca Juga Berita Maluku Hari Ini

Ia menambahkan adanya indikasi untuk mencabut garis Police Line yang kedua kalinya dipasangkan pihak Polda, dengan demikian ada indikasi penyelesaiannya mau dilakukan secara kekeluargaan.

“Hal tersebut tidaklah boleh terjadi kalau mau menyelesaikan secara kekeluargaan, ini hukum di Republik seperti apa ini kalau penegak hukum sudah sudah seperti itu” Ujar Siamiloy.

Menurutnya, masalah ini harus diproses sesuai dengan aturan yang berlaku, jangan diluar aturan.

Pendekatan secara manusiawi berarti polisi harus lebih dulu memberikan, pemahaman, pengertian kepada masyarakat sesuai dengan aturan.

, “Jangan mentang-mentang dia itu punya kekuasaan dan seorang perwira lalu bisa sewenang-wenang terhadap anggota masyarakat, ” Tuturnya.

Untuk itu dirinya meminta kepada Kapolda Maluku dan Kapolri agar oknum polisi seperti ini untuk segera diproses sesuai hukum yang berlaku.

Untuk diketahui Oknum Kompol Cam Latarissa dilaporkan oleh pengelola lapak cakar bongkar di samping PT Makara terkait kasus pengrusakan bangunan milik Tati pada 27 Januari 2022.

Selain itu, Latarissa juga terjerat kasus pengrusakan Police Line yang pertama kali dipasang oleh pihak Polda Maluku setelah adanya laporan terhadap dirinya.

Pada saat itu, walaupun sudah ada pemasangan garis Police line tetapi orang-orang suruhan Latarissa masih tetap membongkar/membuka garis Police line dan terus membangun lapak milik Latarissa diatas bekas bangunan yang dimiliki Tati.

Sementara untuk garis Police Line yang saat ini sudah terpasang untuk kedua kalinya, diduga oleh otak Latarissa, dirinya mencoba mempengaruhi para pedagang yang saat ini dibelakangnya untuk memaksa membuka police Line tersebut dengan cara mendatangi DPRD Kota Ambon.

Namun dari hasil dengar pendapat yang tidak sempat dihadiri oleh Latarissa pada saat itu, memutuskan kalau mereka tidak mempunyai wewenang membuka garis Police Line langsung, tetapi hanya bisa merekomendasikan kepada pihak Polisi.

Selain itu Ketua Komisi II DPRD Kota Ambon, Jafri Taihuttu pada saat itu menegaskan, kalau yang berhak menentukan siapa dari Latarissa maupun Tati yang berhak mengelola lahan tersebut adalah pemilik Lahan.

Oleh pemilik lahan yang dikuasakan kepada Lena Buyang pada rapat dengar pendapat tersebut tetap menetapkan kalau Tati yang akan diberi kontrak karena dari awalnya mereka mengetahui Tatilah selama ini yang mengontrak lahan tersebut.

Untuk Latarissa setahu mereka, hanyalah seorang perwira polisi yang bertugas sebagai keamanan dengan bayaran setahun sebesar 30 juta, bahkan pernah 40 juta rupiah yang Tati pernah bayarkan atas permintaan istri kedua Latarissa.

Selama ini pembayaran kepada pemilik lahan oleh Latarissa juga adalah uang milik Tati, setelah Latarissa menarik semua uang sewa dari para pedagang.

Hingga ada niat untuk mengambil alih, Latarissa pada tahun 2017 meminta Tati untuk membuat kontrak yang ditandantangani oleh dirinya atas permintaan Tati.

Penandatanganan ini karena Tati sudah sangat percaya kepada Latarissa, bahkan sudah menganggap sebagai orang tua sendiri, segala masalah dipercayakan kepadanya.

Namun, dengan liciknya Tati ditusuk dari belakang oleh oknum perwira tersebut, walaupun selama ini apa saja yang diinginkan oleh Latarissa selalu dipenuhi oleh Tati dan suaminya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker