Opini

ISLAM DAN KEBERPIHAKAN ATAS KAUM TERTINDAS

Oleh : Abu Rerry (Hanya Seorang Pengajar Biasa)

Mustadz’afin, adalah konsep seruan moral dalam membela mereka yang lemah dan terpinggirkan, jika kita melihat hal ini lalu korelasikan dengan Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang membela kaum Mustadz’afin (Kaum Tertindas). Dalam beberapa surat dalam Al-Qur’an yang turun di Mekkah misalnya. Setidaknya ada 12 surat yang membahas bagaimana keberpihakan Al-Qur’an dan memberi kritik terhadap tatanan sosial. Pada surah At-Takatsur misalnya Allah Swt memberi  teguran dan peringatan yang keras kepada mereka yang suka menumpuk-numpuk harta yang luar biasa. Sebab sejatinya menumpuk-numpuk kekayaan akan melahirkan ketimpangan sosial, di ayat yang lain semisal pada surah Al-Balad dikatakan di sana kalau jalan yang mendaki adalah membantu kaum miskin disaat mereka kelaparan.

Baca juga: https://urusdo.com/2023/10/25/bangun-sinergitas-pj-bupati-malteng-kunjungi-kemenaker-ri/

Pada surah At-Takatsur dan Al-Balad ini kita penting melihat dan mengambil pesan penting di dalamnya, bagaimana ketimpangan sosial terjadi di sekitar kita, perampasan ruang hidup yang membuat orang miskin makin diinjak tidak lagi ada ruang untuk mereka hidup dan merasakan penghidupan yang layak. Dua surah ini tidak membahas bagaimana kesyirikan namun lebih cenderung mengkritik habis mereka yang suka sekali menumpuk-numpuk harta kekayaaan dan memberi tahu kita bahwa jalan kebaikan itu salah satunya memberi makan mereka yang miskin.

Baca juga: https://urusdo.com/2023/10/25/pejabat-bupati-tanimbar-ditetapkan-sebagai-tersangka/

Di sini kita bisa lihat, bagaimana keberpihkan Rasulullah bahwa mandat pertama kali beliau adalah mandat reformasi sosial di mana Rasulullah diutus untuk menjadi rahmat buat semesta alam, bukan segelintar kelas sosial saja namun seluruh lapisan kelas sosial. Di sisi yang lain Al-Qur’an selalu meminta kita untuk membela kaum yang tertindas, ada banyak sekali ayat yang di mana keberpihakan Al-Qur’an adalah kepada kaum yang tertindas. Semisal dalam surat An-Nissa di mana Allah menyeruhkan hambaNya untuk menolong kaum yang ditindas laki-laki dan perempuan.

Bahkan ayat-ayat yang lain Allah Swt menjanjikan akan memenangkan dari orang-orang yang lemah selama mereka punya niat dan ikhtiar yang sama yakni mengubah tatanan sosial. Dalam Al-qur’an diceritakan betapa banyak negeri-negeri yang tidak adil Allah binasakan di sana, berapa banyak orang-orang berbuat dosa dan berapa banyak  mata air yang ditinggalkan dan puri-puri yang tinggi menjulang kami binasakan. Artinya sejak awal kehancuran sebuah kota, negara dan manusia diantaranya sebab ketidakadilan dan kedzoliman yang dibuat oleh manusia itu sendiri dan sebab itu Al-Qur’an mengutuk segala bentuk ketidakadilan.

Pembelaaan Nabi, Rasul dan Sahabat kepada Kaum Yang Tertindas

Kalau kita lihat para Nabi dan Rasul rata-rata berasal dari kaum yang lemah dan tertindas kecuali Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Bahkan Lukman, adalah seorang tukang kayu dan namanya di abadikan dalam sebuah surah yang bernama surah Lukman dan nasihatnya menjadi petuah untuk tiap kita umat manusia. Kalau kita mau lihat rata-rata yang menjadi lawan dari para nabi dan Rasul ini juga adalah para pemimpin yang dzolim misal Nabi Musa dan Harun diutus Allah untuk melawan kecongkakan pemimpin yang zolim pada masa itu yakni Fir’aun atau nabi Ibrahim yang harus melawan pembodohan yang dilakukan Namrud, Rasulullah Saw juga diutus untuk mencerahkan tatanan sosial dan lawannya adalah Suku Quraish yang saat itu para tetua kabilah-nya adalah mereka yang punya kuasa dan suka melakukan tindakan zolim atas kaum yang lemah.

Baca juga: https://urusdo.com/2023/10/23/dpd-gmni-maluku-desak-kpk-untuk-berkunjung-mbd/

Selain para Nabi dan Rasul yang memang berasal dari kaum proletar, sahabat-sahabat nabi juga demikian semisal Abu Dzar Al-Ghifari yang memang menentang keras ketimpangan sosial yang terjadi, Salman Al-Farisi yang berjuang dalam mencari kebenaran bahkan Bilal bin Rabah, Mudazin yang diberikan mandat oleh Nabi setelah pembebasan atas kota Mekkah untuk menyerukan kemenangan  atas Islam dengan mengumandangkan Adzan di atas Ka’bah. Keberpihkan Islam atas mereka yang miskin juga ditunjukan pada masa-masa  para sahabat Rasulullah memimpin.

Baca juga: https://urusdo.com/2023/10/21/pejabat-bupati-sbb-ajak-masyarakat-ciptakan-pemilu-damai-2024/

Abu Bakr As-shiddiq misalnya yang dalam banyak kisah disebutkan bagaimana beliau membebaskan sahabat-sahabat nabi Saw yang lemah dari perbudakan dan penyiksaan beberapa tokoh Quraish, Umar bin Khattab yang menegur dengan keras Gubernur Mesir yang saat itu di jabati oleh Amr bin Ash atas tanah kakek yahudi yang hendak dibangun Masjid di sana. Atau kisah Utsman bin Affan sahabat nabi yang kaya raya yang membantu kaum miskin dengan membelikan sebuah sumur untuk kepentingan masyarakat umum. Ali bin Abi Tholib dekat dengan kaum miskin bahkan kehidupannya setelah menjadi Khalifah tidak jauh berbeda dengan sebelum dia menjadi khalifah.

Keberpihakan Islam kepada kaum Mustadz’afin sudah sejak lama bahkan dari awal hadirnya Islam, agama ini sudah dirancang untuk berpihak kepada mereka yang lemah. Terus apa yang harus di ambil dan dilakukan oleh aktivis yang mengakui dirinya aktivis muslim? Jalan perjuangan macam apa yang seharusnya mereka gunakan dalam perjuangan sebagai aktivis Muslim?

Aktivis Muslim Berpihaklah Kepada Kaum Tertindas

Membaca dari semua kisah di atas, harusnya umat yang berdiri pada barisan depan untuk melawan pejabat yang suka menindas rakyat adalah mereka yang menunjuk dirinya sendiri sebagai aktvis muslim, sebab Al-Qur’an yang menjadi landasan dalam kehidupan mereka meminta mereka untuk bergerak dan bersuara atas hal itu. Seharusnya yang bersuara paling lantang menentang penindasan atas hak-hak rakyat miskin adalah aktvis Muslim. Sebab Nabi, Rasul dan para sahabatnya dalam tiap bangun dan tidur mereka juga menyuarakan ketidakadilan atas itu.

Namun rasanya hal ini tidak terjadi pada aktivis yang mengakui dirinya aktivis Muslim. Bahkan mereka cenderung diam melihat ketidakadilan yang terjadi. Sering mendapatkan cerita bagaimana Rasulullah dan sahabat bersikap tatkalah ada orang lemah diperlakukan tidak adil, namun cerita itu hanya sebatas angin lalu untuk mereka. Mereka hanya mendengar tetapi tidak ikut meniru apa yang dilakukan Rasulullah dan para nabi-nabi terdahulu. Kalau kita mau betul-betul baca, banyak kisah-kisah dan sikap Rasulullah dan sahabat yang menjadi penolong kaum tertindas. Rasulullah misalnya, dalam salah satu kisah. Rasul memerintahkan umatnya untuk memperhatikan kaum dhuafa, bahkan dalam sebuah hadits dikatakan:

“Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang padahal tentangga yang di sampingnya dalam keadaan lapar, padahal dia mengetahuinya.”

(HR. at-Thabrani)

Hadits ini seharusnya menjadi cambuk bagaimana keberpihakan seorang aktivis muslim. Harusnya menjadi alarm untuk terus berada dalam barisan  penolong mereka yang ditindas, bukan justru berpangku tangan dan menjadi penonton tatkala ketidakadilan merajalela di mana-mana. Bukan hanya berteriak soal penindasan yang terjadi pada negeri-negeri yang jauh semisal di Palestina, Rohingya, Afganistan dan negeri-negeri muslim lainnya. namun ikut turun dan bersuara atas banyak kedzaliman yang terjadi di Rempang, Wadas, Kendeng, Tamansari Bandung, bahkan Wapsalit Buru.

Sudah seharusnya aktivis muslim Maluku berpihak kepada mereka yang tanahnya dirampas, berpihak kepada mereka yang hutan,pohon dan airnya diambil, berpihak kepada mereka yang rumahnya digusur, berpihak kepada mereka yang suaranya dibungkam dan haknya dirampas. Bukankah kebathilan adalah musuh abadi mereka yang menyandang panggilan “Aktivis Muslim” ? maka teruslah bersuara atas semua kebhatilan dan atas semua penindasan yang terjadi.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker